Apa benda celaka yang bernama cinta?
Yang membuat kepala otak aku terbangang?
Yang menjahanam rasional aku bila berpasang?
Dan tetap menjunam tenteram aku bila seorang?
Apa benda celaka yang bernama cinta?
Yang di buku, majalah, kotak radio dan peti TV digah-gah?
Seratus kali dibohong tetap batin mengecil bila romantik komedi menyelubung?
Yang melarut ke bantal tidur, membikin aku menung hingga mata katup?
Apa benda celaka yang bernama cinta?
Yang jadi buah bual manusia tiap detik, tiap kelip?
Ke sana-sini jadi bahan tanya selagi belum mati?
Yang penceritanya ke laut tanpa muntah dari mulut?
Apa benda celaka yang bernama cinta?
Yang sekali dicucuk ia, aku hendak juga?
Biar ia pisau yang memarut minda, aku hendak juga?
Yang memomok mimpi dan jaga, bahlolnya- aku hendak juga?
Apa benda celaka yang bernama cinta?
Yang bila buak melahir bayi-bayi sarap?
Yang bila luak mewujud jiwa-jiwa ranap?
Yang bila kebal eh masih ada sebal dan sial!
Apa benda celaka yang bernama cinta?
Yang memanas malam dingin dan mendingin malam panas?
Yang memaksa aku melutut berharap alangkah bagus jika hati ini mampus
dan aku tidak perlu merasa lagi
tidak perlu berperan kental lagi
menyebut kata kesat bukti kuat
sedang jujurnya aku terlalu mahu
benda ‘celaka’ yang bernama cinta.
Wani Ardy



